Tag Archives: Kanker

Inilah Faktor Pemicu Kanker

Inilah Faktor Pemicu Kanker

Banyak penelitian membuktikan bahwa kebiasaan merokok meningkatkan risiko timbulnya berbagai penyakit. Seperti penyakit jantung dan gangguan pembuluh darah, kanker paru-paru, kanker rongga mulut, kanker laring, kanker osefagus, bronkitis, tekanan darah tinggi, impotensi, serta gangguan kehamilan dan cacat pada janin.

Penelitian terbaru juga menunjukkan adanya bahaya dari second hand-smoke, yaitu asap rokok yang terhirup oleh orang-orang bukan perokok karena berada di sekitar perokok atau biasa disebut juga dengan perokok pasif.

Tidak mengherankan disebut bahaya karena dalam sebatang rokok mengandung tidak kurang dari 4.000 zat kimia beracun. Zat kimia yang dikeluarkan ini terdiri atas komponen gas (85 persen) dan partikel (15 persen).

Komponen gas asap rokok adalah karbon monoksida, amoniak, asam hidrosianat, nitrogen oksida, dan formaldehid. Adapun partikelnya berupa tar, indol, nikotin, karbarzol, dan kresol. Zat-zat ini beracun, mengiritasi dan menimbulkan kanker (karsinogen).

Kanker,Kanker kesihatan,Kanker Video,Kanker malaysia,Kanker gambar,Kanker bf1,Kanker foto,Kesihatan malaysia,Kesihatan Melayu,Kesihatan melayu,Kesihatan gambar,Kesihatan cerita,Kesihatan pilihan,Kesihatan kl,Kesihatan bf1,Kesihatan video,Kesihatan foto, Kesihatan malaysia,Kesihatan Melayu,Kesihatan Indon,Kesihatan Indonesia,Kesihatan gambar,Kesihatan cerita, Kesihatan pilihan,Kesihatan kl,Kesihatan bf1,Kesihatan foto,Kesihatan Indon,Kesihatan malaysia,Kesihatan web,Kesihatan kosong,Asia, jasmani,pencegahan,pembedahan,penjagaan kulit,operasi,Kanker,gejala,medik,gambar,organik,kolesterol,beratbadan,Kanker,gim,obesiti,petua,lemak, senaman,keguguran,kanser,Nutrisi,senaman

Warga Sangatta derita penyakit misterius

Warga Sangatta derita penyakit misterius

Sangatta (ANTARA News) – Mega Lestari (31 tahun), warga Dusun Masabang, Desa Sangatta Selatan, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, menderita penyakit yang masih misterius.

Perutnya membesar, kakinya bengkak seperti terserang penyakit kaki gajah, dan anehnya dari kakinya yang berwarna agak coklat keluar cairan melalui pori-pori, sementara kedua tangannya mengecil.

Ia mengatakan sampai sekarang jenis penyakit yang dideritanya belum diketahui, dan dokter yang pernah memeriksa juga tidak mengetahui penyakitnya, kanker bukan, tumor bukan. “Itulah saya menjadi serba pusing, sedih, dan bingung.”

Ditemui di rumah sewaannya berukuran 3 meter kali 6 meter, Rabu, Mega Lestari yang akrab dipanggil Syamsiah mengatakan, penyakit itu sudah ia derita sejak satu tahun lalu.

Awalnya badan terasa berat, dan dalam hitungan minggu perutnya terus membesar hingga sekarang sudah melebihi perempuan hamil sembilan bulan.

“Anehnya dokter tidak mengetahui penyakit saya ini, padahal sudah rontgen dua kali dan periksa dua kali. Pertama di rumah sakit Samarin dan Tenggarong dan ketiga di rumah sakit umum Sangata. Jawabannya sama tidak ada penyakit, lho kok,” katanya sedih.

Mega, yang sesekali mengelap air mata dan wajahnya menggunakan kain sarung yang dikenakan, mengaku heran karena dari dalam tubuhnya melalui pori-pori kedua kakinya mengeluarkan cairan mirip keringat.

“Meski perut saya terus membesar, namun tidak terasa apa-apa, tidak ada sakit, yang terasa hanya gatal-gatal. Selera makan dan minum juga normal seperti biasa, tidur juga nyenyak seperti wanita normal lainnya,” katanya ditemani suaminya, Ahmat Syaukih.

Kalau tidur sampai sekarang masih duduk di kursi karena tidak bisa berbaring terganjal perut yang bengkak itu. Begitu juga kakinya yang mirip kaki gajah berat untuk digerakkan, itulah makanya saya tidur duduk selama satu tahun.

Suaminya, Ahmad Syaukih, yang berprofesi menjahit sudah menikahi Mega Lestari selama tiga tahun, namun belum dikaruniahi anak. Mereka berharap ada pihak lain dan atau pemerintah membantu untuk memberikan biaya agar penyakitnya bisa hilang.

“Saya sudah takut masuk rumah sakit karena perut saya di obok-obok terus, namun ingin mencari cara pengobatan lain yang penting bisa diketahui jenis penyakit saya dan bisa sembuh,” katanya

Mega mengatakan pasrah dengan penyakit yang menyerangnya, dan menyerahkan kepada Yang Maha Kuasa. “Saya hanya berharap agar pemerintah dan orang pintar mau melihat orang kecil dan warga kesulitan seperti saya. Karena saya membutuhkan pertolongan agar kembali sembuh dan hidup normal seperti dulu lagi.”

misterius, derita, warga sangatta, sangatta derita, derita penyakit, penyakit misterius, gaya, gaya hidup, rabu, perutnya, bengkak, kaki, gajah, kaki gajah, anehnya, dari, kakinya yang, cairan, melalui, melalui pori, kedua, sampai, sampai sekarang, jenis penyakit, belum, diketahui, dokter, mengetahui, tidak mengetahui, penyakitnya, kanker, bukan, itulah, sedih, meter, satu, satu tahun, berat, terus membesar, penyakit saya, mirip, perut saya, hanya, gatal, normal seperti, suaminya, syaukih, aneh, penyakit aneh, penduduk, presiden prihatin, anarkis presiden, federasi, serikat, federasi serikat, pekerja, serikat pekerja, bumn, pekerja bumn, kunjungi, bumn kunjungi, kunjungi farma, serang, aneh serang, nelayan, serang nelayan, kupang, nelayan kupang, persen,

Ibu Negara : Cegah Kanker Lewat Gaya Hidup

Ibu Negara : Cegah Kanker Lewat Gaya Hidup

JAKARTA, KOMPAS.com – Kanker saat ini masih merupakan salah satu penyebab kematian tertinggi.  Upaya pencegahan sejak dini menjadi sangat penting artinya, dan hal ini dapat dimulai melalui perubahan gaya hidup yang lebih sehat.

Saat membuka seminar nasional memperingati Hari Kanker Sedunia di Istana Negara Jakarta, Rabu (22/2/2012), Ibu Negara Ani Yudhoyono mengatakan setiap tahunnya sekitar 12 juta orang di dunia terserang kanker dan 7,6 juta di ntaranya meninggal dunia.  Diungkapkan Ani, sekitar 13 persen kematian dunia disebabkan oleh kanker. Dan bila tidak dilakukan pengendalian, maka pada 2030 diperkirakan  26 juta orang akan menderita kanker dan 17 juta di antaranya meninggal terutama di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

“Peringatan Hari Kanker Sedunia ini sangat penting dan strategis untuk melihat dan mencermati dan menelaah besarnya masalah dampak dari penyakit kanker. Sebagaimana kita ketahui, kanker tidak hanya terkait masalah kesehatan melainkan juga menimbulkan dampak sosial dan ekonomi masyarakat,” tambahnya.

Untuk menekan kasus kanker, Ani juga menegaskan pentingnya upaya pencegahan melalui perubahan gaya hidup yang lebih sehat di masyarakat.  “Untuk melawan kanker, melalui revolusi budaya hidup menjadi lebih sehat dan mengubah cara pandang kita terhadap kanker,” katanya.

Di tempat yang sama, Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih mengatakan, kebijakan pemerintah tentang pengendalian kanker dititikberatkan pada upaya promotif-preventif, yaitu peningkatan perilaku hidup sehat seperti tidak merokok, tidak mengonsumsi alkohol dan banyak mengonsumsi sayur buah.

Menkes mengharapkan beban ekonomi pengidap kanker di Indonesia dapat ditekan melalui peningkatan perilaku hidup sehat dan dengan cara deteksi dini. Melalui deteksi dini penyakit kanker, penderita kanker dapat ditemukan pada stadium awal dan perkembangan penyakit ke tingkat yang lebih berat dapat dicegah maupun dikendalikan.

Menkes mencontohkan, deteksi dini antara lain pada 2007 dilakukan untuk mendeteksi kanker payudara dan juga kanker serviks. Bagi pengidap kanker anak, Kementerian Kesehatan telah mengembangkan program deteksi dini kanker khususnya bagi penyakit leukemia, retinoblastoma, kanker pada tulang, neuroblastoma, neoparing dan lympoma.

Pengobatan alternatif

Pada seminar tersebut, Ani Yudhoyono juga mendorong pentingnya mengembangkan riset pengobatan alternatif kanker di Indonesia dengan menggunakan bahan-bahan herbal.

“Sesungguhnya kita wajib bersyukur karena menganugerahkan bangsa ini tumbuhan dan hewan baik di darat maupun di laut bahkan Indonesia mendapat julukan sebagai negara dengan keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Oleh sebab itu, bisa dibangun kerja sama yang tepat antara kita dan negara lain untuk meneliti kemungkinan obat untuk mengatasi kanker,” katanya.

Ani menambahkan,”akhir-akhir ini kita sering mendengar banyak orang menyebut bahwa kunyit putih di Indonesia dapat untuk menyembuhkan kanker. Nah ini perlu diadakan riset. Saya mengimbau  seluruh peneliti untuk meneliti benarkah kunyit putih bisa menyembuhkan kanker. Kita sekali lagi merupakan negara dengan keanekaragaman hayati yang tinggi”.

Selain penelitian mengenai herbal yang dapat membantu pengobatan kanker, Ani juga menyoroti pentingnya peningkatan peran dan profesionalitas tenaga medis untuk perawatan kanker.

“Harus kita akui bahwa sistem penatalaksanaan penyakit kanker di negara kita masih belum optimal. Ketersediaan tenaga medis yang profesional belum cukup dan belum tersebar secara merata. Sementara fasilitas yang memadai dan terjangkau tidak mudah untuk diwujudkan. Ini yang harus dijawab oleh Kemenkes dan perguruan tinggi bagaimana mencetak tenaga medis yang handal untuk mengatasi penyakit kanker. Sehingga nantinya proporsional tenaga medis itu bisa baik lagi,” ujarnya.

Peringatan, Hari, Kanker, Sedunia ini, sangat, penting, dan, strategis, untuk, melihat, dan, mencermati, menelaah, besarnya, masalah, dampak, dari, penyakit, kanker, Sebagaimana, kita, ketahui, kanker, tidak, hanya terkait, masalah, kesehatan, melainkan, juga, menimbulkan dampak, sosial, dan ekonomi, masyarakat, Ani juga, menegaskan, pentingnya, upaya, pencegahan, melalui, perubahan, gaya, hidup, yang, lebih, sehat, di masyarakat, Untuk melawan, kanker, melalui, revolusi, budaya hidup, menjadi lebih, sehat dan, mengubah, cara, pandang, kita, terhadap, kanker, Di tempat, yang, sama, Menteri, Kesehatan, Endang, Rahayu, Sedyaningsih, mengatakan, kebijakan, pemerintah, tentang, pengendalian, kanker, dititikberatkan, pada, upaya, promotif-preventif, yaitu, peningkatan, perilaku, hidup, sehat, seperti, tidak, merokok, tidak, mengonsumsi, alkohol, dan, banyak, mengonsumsi, sayur, buah, akhir-akhir, ini, kita sering, mendengar, banyak, orang, menyebut, bahwa, kunyit, putih, di Indonesia, dapat, untuk, menyembuhkan, kanker, Nah, ini, perlu, diadakan, riset, Saya, mengimbau,  seluruh, peneliti, untuk, meneliti, benarkah, kunyit, putih, bisa, menyembuhkan, kanker,

Waspadai Bila Testis Bayi Tidak Turun

Waspadai Bila Testis Bayi Tidak Turun

JAKARTA, KOMPAS.com – Sebuah data menunjukkan bahwa sekitar 2 hingga 5 persen bayi yang baru lahir mengalami kelainan pada perkembangan seksual di mana testis (buah zakar) tidak turun atau tidak tersimpan sebagaimana mestinya di kantung testis (skrotum). Tidak turunnya testis juga menjadi salah satu pemicu gangguan kesuburan pada pria dewasa.

Demikian disampaikan Dr. Nur Rasyid SpU, ahli urologi dari Rumah Sakit Asri, saat acara media edukasi bertema Faktor Spermatozoa Penyebab Infertilitas Pria, Rabu, (22/2/2012) di Jakarta.

“Menurunkan testis harus dilakukan pada usia sebelum usia 1 tahun. Karena, jika dilakukan setelah satu tahun akan terjadi perubahan dari sel yang berisiko menjadi kanker,” katanya.

Rasyid menerangkan, dulu penurunan testis masih sering dilakukan setelah anak berusia lebih dari satu tahun. Tapi seiring dengan perkembangan dunia kedokteran, hal itu kini sudah tidak diperkenankan lagi. “Kalau diturunkan di atas dua tahun, sebenarnya biji kemaluan sudah tidak berfungsi lagi untuk memproduksi spermatozoa,” katanya.

Meski begitu, Rasyid tetap menganjurkan supaya penurunan testis tetap dilakukan meski usia orang tersebut sudah lebih dari dua tahun atau bahkan dewasa. Kenapa?

Karena menurutnya, apabila testis tetap berada didalam perut (tidak diturunkan), pasien memiliki risiko lebih besar terkena kanker testis.  “Jadi tujuannya dikeluarkan saat dewasa adalah untuk memonitoring, kalau sewaktu-waktu dia berubah menjadi kanker,” terangnya.

Cukup mudah untuk memeriksa apakah testis pada bayi turun atau tidak. Biasanya dokter akan memeriksa daerah pangkal paha bayi, dari pinggang sampai ke skrotum. Apabila testis tidak turun, maka akan dilakukan pemeriksaan melalui USG atau rontgen untuk mengetahui posisi testis.

“Kalau USG tidak bisa, cara terakhir dapat dilakukan dengan laparoskopi, yakni membuat satu sayatan kecil di bawah pusar. Begitu biji kemaluannya ketemu bisa diturunkan pakai laparoskopi,” ucapnya.

Ia menuturkan, apabila kedua biji kemaluan tidak turun, kemampuan seseorang untuk mempunyai anak dikemudian hari akan sangat kecil (90 persen).  Sementara jika yang turun hanya satu, peluang memiliki anak sekitar 30 persen.

Menurunkan, testis, harus dilakukan, pada, usia, sebelum, usia, 1 tahun, Karena, jika, dilakukan, setelah, satu, tahun, akan, terjadi, perubahan, dari, sel yang, berisiko, menjadi, kanker,” katanya, Rasyid, menerangkan, dulu, penurunan, testis, masih, sering, dilakukan, setelah, anak, berusia, lebih dari, satu tahun, Tapi seiring, dengan, perkembangan, dunia, kedokteran, hal, itu kini, sudah, tidak, diperkenankan, lagi, “Kalau, diturunkan, di atas, dua, tahun, sebenarnya, biji, kemaluan, sudah, tidak, berfungsi, lagi, untuk, memproduksi, spermatozoa, katanya, Meski, begitu, Rasyid, tetap, menganjurkan, supaya, penurunan, testis, tetap, dilakukan, meski, usia, orang, tersebut, sudah, lebih, dari, dua, tahun, atau, bahkan, dewasa, Kalau, USG, tidak, bisa, cara, terakhir, dapat, dilakukan, dengan, laparoskopi, yakni, membuat, satu, sayatan, kecil, di bawah, pusar, Begitu, biji, kemaluannya, ketemu, bisa, diturunkan, pakai, laparoskopi,

36,88 persen penduduk tak terlindungi Jamkes

36,88 persen penduduk tak terlindungi Jamkes

Bandarlampung (ANTARA News) – Wakil Menteri Kesehatan RI Prof Dr Ali Ghufron Mukti mengatakan pada 2011, 36,88 persen penduduk Indonesia belum terlindungi oleh jaminan kesehatan (Jamkes).

“Peserta jaminan kesehatan tahun 2011 mencapai 63,12 persen dari 237,6 juta penduduk Indonesia. Sisanya, hampir dari penduduk Indonesia 36,88 persen belum terlindungi oleh jaminan kesehatan,” katanya di Bandarlampung, Kamis.

Kondisi tersebut berdampak kurang baik bagi pengendalian biaya kesehatan yang cenderung meningkat.

“Ini bisa mengakibatkan masyarakat mudah jatuh miskin akibat harus membiayai pengobatannya, sementara fasilitas pemberi layanan kesehatan cenderung memberikan pelayanan yang tidak rasional untuk mendapatkan keuntungan besar,” ujarnya dalam acara pencanangkan Jamkesta Provinsi Lampung, di Bandarlampung.

Ghufron menyebut Jamkesta terbukti bermanfaat untuk menjangkau penduduk, khususnya penduduk miskin dan tidak mampu di luar kuota program jamkesmas.

Dia melanjutkan, data Kementerian Kesehatan bulan Oktober 2011 menunjukkan dari 497 kabupaten/kota, sudah 349 kabupaten/kota melaksanakan Jamkesda dengan cakupan sekitar 31 juta jiwa.

penduduk, persen, terlindungi, jamkes, persen penduduk, indonesia, penduduk terlindungi, terlindungi jamkes, jaminan, jaminan kesehatan, jamkes antaranews, pendidikan, belum, miskin, ikan, presiden, prihatin, atas, prihatin atas, maraknya, atas maraknya, aksi, maraknya aksi, anarkis, aksi anarkis, pendidikan nasional, menuju, nasional menuju, digital, menuju digital, timur, atasi, kanker, dalam, pecandu, narkoba, pecandu narkoba, diimbau, narkoba diimbau, wajib, diimbau wajib, makan, makan ikan, tingkatkan, ikan tingkatkan, hasrat, tingkatkan hasrat, seksual, hasrat seksual, presiden prihatin, anarkis presiden, guru, kembangkan, kembangkan pendidikan, ajak, negara ajak, ajak atasi, penyakit, atasi penyakit, penyakit kanker, bersama, kanker bersama, bersama negara, berlakukan, negara berlakukan, berlakukan jaminan, kepada, kesehatan kepada, pasien,