Tag Archives: luar

Obat AIDS Bantuan Pemerintah

Obat AIDS Bantuan Pemerintah

DR SAMSURIDJAL DJAUZI

TANYA:

Adik saya laki-laki, 29 tahun. Enam tahun lalu dia didiagnosis terinfeksi HIV. Kami sekeluarga panik. Meski belum yakin benar, adik saya mengikuti program obat AIDS (ARV) yang dapat diperoleh secara cuma-cuma. Kalau tak salah, obat ini merupakan bantuan WHO dan disalurkan melalui Pemerintah Indonesia.

Ternyata, hasil pengobatan baik sekali. Berat badannya naik dan gejala penyakit juga menghilang. Bahkan, dia dapat melakukan kegiatan seperti sebelum sakit, seperti bermain tenis. Dia disiplin minum obat dan sampai sekarang masih berkonsultasi dengan dokter dua bulan sekali. Dia diizinkan dokter untuk menikah dan kemungkinan untuk mempunyai anak yang tak tertular HIV juga besar.

Belakangan saya mengikuti berita bahwa bantuan dari luar negeri untuk penanggulangan AIDS di Indonesia mulai berkurang, bahkan mungkin dalam beberapa tahun ke depan akan dihentikan. Saya khawatir dengan nasib adik saya. Jika dia tak mendapat obat bantuan pemerintah lagi, tentu penyakitnya akan kambuh. Namun, di balik itu, ada berita bahwa AIDS tak lama lagi akan dapat disembuhkan. Artinya, orang dengan HIV/AIDS tak perlu lagi minum obat seumur hidup. Benarkah demikian?

P di B

Obat antiretroviral (ARV) gabungan tiga macam obat dinyatakan bermanfaat untuk terapi AIDS sejak tahun 1996. Manfaat obat tersebut di antaranya menurunkan angka kematian berkaitan dengan infeksi HIV, menurunkan angka perawatan di rumah sakit, menekan jumlah virus HIV di darah, dan memulihkan kembali kekebalan tubuh yang menurun. Namun, manfaat yang juga penting adalah bagi mereka yang minum obat ARV secara teratur, risiko menularkan kepada orang lain menjadi amat kecil. Karena itulah ilmu kedokteran sekarang memang dapat mencegah penularan HIV dari suami ke istri atau sebaliknya.

Obat ARV yang dipakai oleh adik Anda bukanlah obat bantuan WHO, melainkan dibiayai oleh anggaran pemerintah. Sejak tahun 2005, Pemerintah Indonesia menyediakan obat ARV untuk rakyat secara subsidi penuh (cuma-cuma). Pada akhir tahun 2003, Menteri Kesehatan waktu itu (Achmad Sujudi) mengusulkan kepada pemerintah untuk membatalkan paten obat ARV di Indonesia dan membuat obat generik untuk kepentingan rakyat Indonesia.

Presiden Megawati menerbitkan keppres mengenai pengadaan obat ARV generik ini. Sejak itulah harga obat ARV paten yang mencapai sekitar 1.000 dollar AS setiap bulan dapat diproduksi dalam bentuk generik dengan harga sekitar Rp 400.000 sebulan. PT Kimia Farma yang waktu itu dipimpin oleh Gunawan Pranoto bersedia memproduksi obat tersebut. Obat tersebut sampai sekarang digunakan oleh sekitar 23.000 orang di negeri kita.

Pemerintah tahun ini menyediakan anggaran sekitar Rp 180 miliar untuk penanggulangan AIDS di Indonesia, termasuk untuk pengadaan obat ARV. Global Fund yang dibentuk oleh PBB juga membantu dana untuk upaya pencegahan dan juga terapi, terutama obat ARV lini dua, yang sudah mulai dibutuhkan oleh sekitar 5 persen pengguna ARV di Indonesia.

Komitmen pemerintah dalam pengadaan obat ARV cukup tinggi mengingat obat ARV sebenarnya adalah sebuah investasi. Dana yang dikeluarkan untuk obat ARV di samping bermanfaat bagi mereka yang memerlukan obat tersebut juga berguna untuk menurunkan risiko pencegahan (treatment as prevention). Memang benar dana Global Fund semakin menurun karena mulai ada beberapa anggota Global Fund yang tak dapat lagi menyediakan dana, seperti Italia. Namun, kita berharap pengurangan dana tersebut tak banyak pengaruhnya terhadap pengadaan obat ARV di negeri kita.

Menuju penyembuhan AIDS

Kemajuan penelitian belakangan ini memang menimbulkan sikap optimistis. Penyembuhan AIDS tampaknya di depan mata. Tema kongres AIDS sedunia tahun 2012 ini adalah ”Menuju Penyembuhan AIDS”. Jadi, para pakar berharap dalam waktu tak lama lagi AIDS dapat disembuhkan. Obat ARV yang ada sekarang dapat menekan jumlah virus HIV di darah menjadi tak terdeteksi lagi. Namun, HIV di kelenjar getah bening masih dapat berkembang biak. Oleh karena itu, jika obat ARV dihentikan, berarti dalam darah kadarnya rendah, maka HIV dari kelenjar getah bening dapat berkembang biak lagi di darah.

Para peneliti mengembangkan dua pendekatan untuk menyembuhkan AIDS. Pertama, dengan obat ARV yang mampu bekerja baik di kelenjar getah bening atau mengombinasikan obat ARV dengan vaksin terapi AIDS.

Setiap orang harus tahu cara menghindari diri dari penularan HIV. Kemudian tes HIV harus digalakkan karena masih ada sekitar 200.000 orang lagi di Indonesia yang diperkirakan terinfeksi HIV tetapi belum terdiagnosis karena belum melaksanakan tes HIV. Mereka yang diketahui terinfeksi HIV disiapkan untuk mendapat obat ARV. Karena itulah kebutuhan obat ARV kita pada tahun mendatang akan meningkat. Namun, semakin banyak orang yang diobati, semakin banyak pula nyawa yang diselamatkan dan penularan HIV semakin menurun.

Jika dibandingkan dengan Thailand dan Kamboja, jumlah orang yang menggunakan ARV di negeri kita masih relatif sedikit. Di Thailand sekarang ini sekitar 160.000 orang menggunakan ARV, sedangkan di Kamboja, yang penduduknya hanya 14 juta orang, yang menggunakan ARV sudah mencapai 45.000 orang. Sekitar 92 persen orang yang memerlukan obat ARV di Kamboja telah mendapat obat yang bermanfaat ini.

dia didiagnosis, terinfeksi, HIV, Kami sekeluarga panik, Meski, belum, yakin, benar, adik, saya, mengikuti, program, obat, AIDS, ARV, yang, dapat, diperoleh, secara, cuma-cuma, Kalau, tak, salah, obat, ini, merupakan, bantuan, WHO, dan, disalurkan, melalui, Pemerintah, Indonesia, Ternyata, hasil, pengobatan, baik, sekali, Berat, badannya, naik, dan, gejala, penyakit, juga, menghilang, Bahkan, dia, dapat, melakukan, kegiatan, seperti, sebelum, sakit, seperti, bermain, tenis, Dia disiplin, minum obat, dan, sampai, sekarang, masih, berkonsultasi, dengan, dokter, dua, bulan sekali, Dia, diizinkan, dokter untuk, menikah, dan kemungkinan, untuk, mempunyai anak, yang, tak tertular, HIV ,juga, besar, Belakangan saya, mengikuti, berita, bahwa, bantuan, dari, luar, negeri, untuk, penanggulangan, AIDS, di Indonesia, mulai, berkurang, bahkan, mungkin, dalam, beberapa, tahun, ke depan, akan dihentikan, Saya khawatir, dengan, nasib, adik, saya, Jika, dia, tak, mendapat, obat, bantuan, pemerintah, lagi, tentu, penyakitnya, akan kambuh, Namun, di balik, itu, ada berita, bahwa AIDS, tak lama, lagi, akan, dapat, disembuhkan, Artinya, orang, dengan, HIV, AIDS, tak perlu, lagi, minum, obat, seumur, hidup,

Lelaki Mudah Menghidap Barah Ginjal

Lelaki Mudah Menghidap Barah Ginjal

Secara umum lelaki lebih kerap berhadapan dengan penyakit barah ginjal berbanding wanita. Mengikut anggaran umum, jumlah lelaki yang berhadapan dengan penyakit ini adalah dua kali ganda daripada wanita.

Malah, risiko barah ginjal semakin tinggi seiring dengan peningkatan usia. Lebih 90 peratus daripada kes membabitkan mereka yang didiagnos dengan barah ginjal adalah pesakit yang berusia 45 tahun ke atas.

Pakar Onkologi Klinikal dan Presiden Persatuan Onkologi Malaysia, Dr Gucharan Singh Khera, berkata umumnya pada waktu didiagnos, barah berkenaan sudah mengalami metastatis (merebak ke bahagian tubuh yang lain) di kalangan satu pertiga pesakit. Dr Gucharan berkata, sehingga kini 208,000 orang di seluruh dunia didapati menghidap barah buah pinggang setiap tahun manakala 102,000 individu meninggal dunia akibat penyakit itu setahun. Pada tahun lalu, 51,000 kes barah ginjal didiagnos di Amerika Syarikat dengan membabitkan 13,000 kematian. Katanya, walaupun wujud kemajuan dalam usaha memahami mekanisme pertumbuhan pelbagai jenis barah, barah ginjal masih menjadi penyakit yang belum difahami sepenuhnya.

“Apabila barah ginjal berada pada tahap lanjut, ia sangat sukar dikawal. Pada umumnya barah ginjal adalah penyakit yang tidak bertindak balas dengan kemoterapi atau terapi hormon,” katanya. Menurut laporan kedua Daftar Kanser Kebangsaan mengenai kes barah di Malaysia pada 2003, ada 305 kes barah ginjal disahkan secara diagnosis di Semenanjung.

Faktor Risiko

  • Pesakit yang menjalani dialisis ginjal dan mereka yang mempunyai sejarah barah ginjal dalam keluarga berhadapan dengan risiko yang tinggi untuk diserang penyakit ini.
  • Merokok adalah faktor risiko utama barah ginjal. Perokok memiliki kebarangkalian dua kali ganda lebih tinggi berhadapan barah ginjal berbanding mereka yang tidak merokok.
  • Obesiti dan penggunaan ubat penahan atau pelega kesakitan dalam jangka panjang juga boleh mengundang masalah ini.

Simptom

  • Darah dalam air kencing
  • Sakit belakang
  • Sakit pada sisi badan yang tidak hilang
  • Sakit atau pembesaran pada abdomen
  • Kehilangan berat badan yang tidak diketahui puncanya
  • Hilang selera makan
  • Badan letih dan lesu

Rawatan

Rawatan barah ginjal bergantung pada tahap seriusnya penyakit itu dan keadaan kesihatan pesakit secara menyeluruh. Terapi utama bagi barah ginjal adalah pembedahan. Bagaimanapun, ia hanya berkesan jika semua barah dapat dibuang. Rawatan radiasi juga boleh dibuat apabila barah sudah merebak ke luar ginjal.

Selain itu, pesakit boleh menggunakan rawatan kemoterapi tetapi rawatan ini hanya boleh dilakukan pada sesetengah pesakit sahaja. Terdapat kaedah terapi baru yang digunakan kepada pesakit barah ginjal yang bertindak ke atas bahagian khusus sel barah. Rawatan ni menunjukkan keberkesanannya dalam rawatan pesakit barah ginjal lanjutan. Ini termasuk pengambilan ubat bagi menghalang pertumbuhan sel darah baru dan ubat yang mensasarkan faktor pertumbuhan sel penting yang lain.

Lelaki, Mudah, Menghidap, Barah, Ginjal, barah, ginjal, kesihatan, barah ginjal, kesihatan, lelaki, menghidap, menghidap barah, mudah, lelaki mudah, penyakit, pesakit, Darah, dalam, air, kencing, Sakit, belakang, Sakit, pada, sisi, badan, hilang, Sakit, pembesaran, abdomen, Kehilangan, berat, badan, puncanya, Hilang, selera, makan, Badan, letih, lesu, Terapi, utama,  barah, ginjal, pembedahan, Rawatan, radiasi, barah, merebak, luar, ginjal

Budaya Menolong Harus Dimiliki Dokter

Budaya Menolong Harus Dimiliki Dokter

KOMPAS.com – Menurunnya penghargaan terhadap profesi dokter akibat isu malpraktik dan komersialisasi merupakan fakta meresahkan yang dihadapi fakultas kedokteran di Indonesia saat ini.

Menurut Dr. Ratna Sitompul, Sp.M(K), Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), generasi dokter terkini diharapkan mampu menguasai keilmuan dan keterampilan klinis yang sesuai dengan kesehatan masyarakat yang dilayani, sekaligus juga memiliki komitmen pengabdian dan kecintaan terhadap kemanusiaan.

“Profesi dokter juga harus mengutamakan budaya menolong, semangat pengabdian dan kecintaan pada kemanusiaan,” kata Ratna dalam orasi ilmiah perayaan Dies Natalis FKUI di Jakarta (22/2/12).

Untuk itu, menurut Ratna, saat ini FKUI mengembangkan program pengembangan kompetensi empati, komunikasi, dan bioetika untuk pengembangan pribadi dan profesi dokter.

“Melalui program ini, setiap mahasiswa FKUI diajak menjadi relawan bagi pasien baru di RSCM yang berasal dari luar Jakarta. Mereka harus mendampingi, membantu mencari dokter dan obat. Diharapkan agar kelak mereka bisa belajar bagaimana rasanya menjadi pasien,” katanya.

Melalui pengalaman langsung di lapangan itu mahasiswa FKUI juga memiliki kesempatan untuk melatih kemampuan komunikasi, berbagi pengalaman, sampai menumbuhkan rasa empati dan rasa percaya diri dalam hubungan dengan pasien.

Bagaimana menghasilkan dokter yang bekerja dan melayani dengan hati adalah tema besar yang diangkat dalam perayaan Dies Natalis ke 62 Universitas Indonesia itu.  Ratna mengatakan sebagai perintis pendidikan dokter di Indonesia, FKUI seharusnya menjadi panutan bagi institusi pendidikan lain.

Profesi, dokter, juga, harus, mengutamakan, budaya menolong, semangat, pengabdian, dan, kecintaan, pada, kemanusiaan, mengembangkan, program, pengembangan, kompetensi, empati, komunikasi, dan bioetika, untuk, pengembangan, pribadi, dan, profesi, dokter, Melalui, program, ini, setiap, mahasiswa, FKUI, diajak, menjadi, relawan, bagi, pasien, baru, di RSCM, yang, berasal, dari, luar, Jakarta, Mereka, harus, mendampingi, membantu, mencari, dokter, dan, obat, Diharapkan, agar, kelak, mereka, bisa, belajar, bagaimana, rasanya, menjadi, pasien, Melalui, pengalaman, langsung, di lapangan, itu, mahasiswa, FKUI, juga, memiliki, kesempatan, untuk, melatih, kemampuan, komunikasi, berbagi, pengalaman, sampai, menumbuhkan, rasa empati, dan, rasa, percaya, diri, dalam, hubungan, dengan, pasien, Bagaimana, menghasilkan, dokter yang, bekerja, dan, melayani, dengan, hati, adalah, tema, besar, yang, diangkat, dalam perayaan, Dies Natalis, ke 62, Universitas, Indonesia, itu,  Ratna, mengatakan, sebagai, perintis, pendidikan, dokter, di Indonesia,