Tag Archives: katanya

Waspadai Bila Testis Bayi Tidak Turun

Waspadai Bila Testis Bayi Tidak Turun

JAKARTA, KOMPAS.com – Sebuah data menunjukkan bahwa sekitar 2 hingga 5 persen bayi yang baru lahir mengalami kelainan pada perkembangan seksual di mana testis (buah zakar) tidak turun atau tidak tersimpan sebagaimana mestinya di kantung testis (skrotum). Tidak turunnya testis juga menjadi salah satu pemicu gangguan kesuburan pada pria dewasa.

Demikian disampaikan Dr. Nur Rasyid SpU, ahli urologi dari Rumah Sakit Asri, saat acara media edukasi bertema Faktor Spermatozoa Penyebab Infertilitas Pria, Rabu, (22/2/2012) di Jakarta.

“Menurunkan testis harus dilakukan pada usia sebelum usia 1 tahun. Karena, jika dilakukan setelah satu tahun akan terjadi perubahan dari sel yang berisiko menjadi kanker,” katanya.

Rasyid menerangkan, dulu penurunan testis masih sering dilakukan setelah anak berusia lebih dari satu tahun. Tapi seiring dengan perkembangan dunia kedokteran, hal itu kini sudah tidak diperkenankan lagi. “Kalau diturunkan di atas dua tahun, sebenarnya biji kemaluan sudah tidak berfungsi lagi untuk memproduksi spermatozoa,” katanya.

Meski begitu, Rasyid tetap menganjurkan supaya penurunan testis tetap dilakukan meski usia orang tersebut sudah lebih dari dua tahun atau bahkan dewasa. Kenapa?

Karena menurutnya, apabila testis tetap berada didalam perut (tidak diturunkan), pasien memiliki risiko lebih besar terkena kanker testis.  “Jadi tujuannya dikeluarkan saat dewasa adalah untuk memonitoring, kalau sewaktu-waktu dia berubah menjadi kanker,” terangnya.

Cukup mudah untuk memeriksa apakah testis pada bayi turun atau tidak. Biasanya dokter akan memeriksa daerah pangkal paha bayi, dari pinggang sampai ke skrotum. Apabila testis tidak turun, maka akan dilakukan pemeriksaan melalui USG atau rontgen untuk mengetahui posisi testis.

“Kalau USG tidak bisa, cara terakhir dapat dilakukan dengan laparoskopi, yakni membuat satu sayatan kecil di bawah pusar. Begitu biji kemaluannya ketemu bisa diturunkan pakai laparoskopi,” ucapnya.

Ia menuturkan, apabila kedua biji kemaluan tidak turun, kemampuan seseorang untuk mempunyai anak dikemudian hari akan sangat kecil (90 persen).  Sementara jika yang turun hanya satu, peluang memiliki anak sekitar 30 persen.

Menurunkan, testis, harus dilakukan, pada, usia, sebelum, usia, 1 tahun, Karena, jika, dilakukan, setelah, satu, tahun, akan, terjadi, perubahan, dari, sel yang, berisiko, menjadi, kanker,” katanya, Rasyid, menerangkan, dulu, penurunan, testis, masih, sering, dilakukan, setelah, anak, berusia, lebih dari, satu tahun, Tapi seiring, dengan, perkembangan, dunia, kedokteran, hal, itu kini, sudah, tidak, diperkenankan, lagi, “Kalau, diturunkan, di atas, dua, tahun, sebenarnya, biji, kemaluan, sudah, tidak, berfungsi, lagi, untuk, memproduksi, spermatozoa, katanya, Meski, begitu, Rasyid, tetap, menganjurkan, supaya, penurunan, testis, tetap, dilakukan, meski, usia, orang, tersebut, sudah, lebih, dari, dua, tahun, atau, bahkan, dewasa, Kalau, USG, tidak, bisa, cara, terakhir, dapat, dilakukan, dengan, laparoskopi, yakni, membuat, satu, sayatan, kecil, di bawah, pusar, Begitu, biji, kemaluannya, ketemu, bisa, diturunkan, pakai, laparoskopi,

AIDS Serang Usia Produktif

aids_virus

AIDS Serang Usia Produktif

Jumlah kasus Human Immunodeficiency Virus dan Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS) di Kota Denpasar hingga kini tercatat mencapai 1.284 kasus dari 2.829 kasus di Bali.

“Dari jumlah tersebut sedikitnya 48 persen kasus ada di Kota Denpasar, 51,63 persen diantaranya adalah penduduk usia produktif,” kata Ketua Pelaksana Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara di Denpasar, Selasa.

Pada pembukaan pelatihan tutor kelompok siswa peduli AIDS itu, ia mengatakan, penyakit yang menyerang kekebalan tubuh tersebut semestinya sejak dini harus dikenal oleh para remaja, sehingga mereka bisa mengantisipasi agar tak tertular.

“HIV sangat sulit dideteksi dan hanya bisa diketahui melalui tes darah sehingga sering digambarkan sebagai fenomena gunung es. Hal ini sudah tentu sangat mengkawatirkan dan menuntut perhatian serta kepedulian secara serius dari semua pihak,” katanya.

Dikatakan, pergerakan HIV dan AIDS di Indonesia saat ini telah berubah dari epidemik rendah menjadi konsentrasi epidemik. Sementara yang terjangkit penyakit tersebut berkisar pada usia 15-49 tahun.

“Untuk mengatasi hal tersebut berbagai upaya pemerintah telah dilakukan yakni peningkatan peranan kelompok siswa peduli AIDS dan Narkoba (KSPAN),” katanya.

Ni Wayan Purnasih, ketua panitia kegiatan itu mengatakan, tujuan dari pelatihan tersebut adalah untuk memberikan pemahaman yang sama tentang bahaya HIV dan AIDS.

Sehingga nantinya diharapkan siswa akan lebih mampu memberikan penjelasan terhadap lingkungannya dan sekaligus mengerti bahaya HIV dan AIDS itu.

“Kami harapkan siswa ini mampu memahami bahaya dari terjangkit HIV/AIDS serta  dapat menyosialisasikan kepada masyarakat dan lingkungan sekitarnya,” ujarnya.

Ia mengatakan, dalam pelatihan ini materi yang diberikan meliputi  ceramah, diskusi, dan tanya jawab dengan menghadirkan narasumber dari forum guru pembina KSPAN dan KPA Provinsi Bali.

“Pelatihan tersebut dihadiri 82 orang yang terdiri dari 38 orang siswa-siswi sekolah menengah atas dan sekolah menengah kejuruan (SMA/SMK) serta 44 siswa sekolah menengah pertama (SMP) di Kota Denpasar,” kata Purnasih.

Sementara di Indonesia secara kumulatif kasus pengidap HIV dan AIDS mulai Januari 1987 hingga 31 Maret 2009 terdiri dari HIV 6.668 kasus, AIDS 16.964 kasus.

Sehingga jumlah keseluruhannya mencapai 23.632 kasus, dengan angka kematian 3.492 jiwa.

Jumlah kumulatif kasus AIDS menurut risiko, antara lain heteroseksual mencapai 8.210, homoseksual mencapai 628, jarum suntik atau IDU mencapai 7.125.

Kemudian transmisi perinatal atau ibu yang sedang hamil yang menular kepada bayi mencapai 390, dan tak diketahui sebabnya mencapai 611 kasus.

Proporsi kumulatif untuk kasus AIDS menurut golongan usia, antara lain di bawah usia satu tahun mencapai 135, usia satu hingga empat tahun mencapai 175, usia lima hingga empat belas tahun mencapai 88.

Usia lima belas hingga sembilan belas tahun mencapai 522, usia dua puluh hingga dua puluh sembilan tahun mencapai 8.567 kasus.

Sedangkan usia 30 hingga 39 tahun mencapai 4.997, usia 40 hingga 49 tahun mencapai 1.427, usia 50 hingga 59 tahun mencapai 404, usia di atas 60 tahun mencapai 91, dan tak diketahui usia penderita mencapai 558 kasus.

Kasus AIDS terbanyak berasal dari daerah Jawa Barat dengan 3.162 kasus, DKI Jakarta dengan 2.807 kasus, Jawa Timur dengan 2.652, Papua dengan 2.499, dan Bali 1.263 kasus.

Cara Mencegah Kanker, AIDS Serang  kesihatan, AIDS Serang  Video, AIDS Serang  video, AIDS Serang malaysia, Senaman Petua Melayu, AIDS Serang  gambar, AIDS Serang  bf1, AIDS Serang foto,  Kesihatan malaysia, Kesihatan Melayu, Kesihatan melayu, Kesihatan gambar, Kesihatan cerita, Kesihatan pilihan, Kesihatan kl, Kesihatan bf1, Kesihatan video,Kesihatan foto, Kesihatan malaysia, Kesihatan Melayu, Kesihatan Indon, Kesihatan Indonesia, Kesihatan gambar, Kesihatan cerita, Kesihatan pilihan, Kesihatan kl, Kesihatan bf1, Kesihatan foto, Kesihatan Indon, Kesihatan malaysia, Kesihatan web, Kesihatan kosong, Asia, jasmani,pencegahan, Dunia, foto, pembedahan, penjagaan kulit, operasi, penyakit, gejala, medik, gambar, operasi, organik, kolesterol, berat badan, diet, gim, obesiti, petua, lemak, senaman, keguguran, kanser, Nutrisi, gambar,  senaman,  silat, bf1