Tag Archives: pada

Budaya Menolong Harus Dimiliki Dokter

Budaya Menolong Harus Dimiliki Dokter

KOMPAS.com – Menurunnya penghargaan terhadap profesi dokter akibat isu malpraktik dan komersialisasi merupakan fakta meresahkan yang dihadapi fakultas kedokteran di Indonesia saat ini.

Menurut Dr. Ratna Sitompul, Sp.M(K), Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), generasi dokter terkini diharapkan mampu menguasai keilmuan dan keterampilan klinis yang sesuai dengan kesehatan masyarakat yang dilayani, sekaligus juga memiliki komitmen pengabdian dan kecintaan terhadap kemanusiaan.

“Profesi dokter juga harus mengutamakan budaya menolong, semangat pengabdian dan kecintaan pada kemanusiaan,” kata Ratna dalam orasi ilmiah perayaan Dies Natalis FKUI di Jakarta (22/2/12).

Untuk itu, menurut Ratna, saat ini FKUI mengembangkan program pengembangan kompetensi empati, komunikasi, dan bioetika untuk pengembangan pribadi dan profesi dokter.

“Melalui program ini, setiap mahasiswa FKUI diajak menjadi relawan bagi pasien baru di RSCM yang berasal dari luar Jakarta. Mereka harus mendampingi, membantu mencari dokter dan obat. Diharapkan agar kelak mereka bisa belajar bagaimana rasanya menjadi pasien,” katanya.

Melalui pengalaman langsung di lapangan itu mahasiswa FKUI juga memiliki kesempatan untuk melatih kemampuan komunikasi, berbagi pengalaman, sampai menumbuhkan rasa empati dan rasa percaya diri dalam hubungan dengan pasien.

Bagaimana menghasilkan dokter yang bekerja dan melayani dengan hati adalah tema besar yang diangkat dalam perayaan Dies Natalis ke 62 Universitas Indonesia itu.  Ratna mengatakan sebagai perintis pendidikan dokter di Indonesia, FKUI seharusnya menjadi panutan bagi institusi pendidikan lain.

Profesi, dokter, juga, harus, mengutamakan, budaya menolong, semangat, pengabdian, dan, kecintaan, pada, kemanusiaan, mengembangkan, program, pengembangan, kompetensi, empati, komunikasi, dan bioetika, untuk, pengembangan, pribadi, dan, profesi, dokter, Melalui, program, ini, setiap, mahasiswa, FKUI, diajak, menjadi, relawan, bagi, pasien, baru, di RSCM, yang, berasal, dari, luar, Jakarta, Mereka, harus, mendampingi, membantu, mencari, dokter, dan, obat, Diharapkan, agar, kelak, mereka, bisa, belajar, bagaimana, rasanya, menjadi, pasien, Melalui, pengalaman, langsung, di lapangan, itu, mahasiswa, FKUI, juga, memiliki, kesempatan, untuk, melatih, kemampuan, komunikasi, berbagi, pengalaman, sampai, menumbuhkan, rasa empati, dan, rasa, percaya, diri, dalam, hubungan, dengan, pasien, Bagaimana, menghasilkan, dokter yang, bekerja, dan, melayani, dengan, hati, adalah, tema, besar, yang, diangkat, dalam perayaan, Dies Natalis, ke 62, Universitas, Indonesia, itu,  Ratna, mengatakan, sebagai, perintis, pendidikan, dokter, di Indonesia,

Agar Tak Ketergantungan Obat Penenang

Agar Tak Ketergantungan Obat Penenang

KOMPAS.com – Sejak menuliskan beberapa artikel tentang bahaya penggunaan obat penenang yang termasuk golongan benzodiazepine saya banyak mendapatkan pertanyaan dari para pengguna obat ini yang kebetulan adalah penderita gangguan cemas atau depresi dengan gejala-gejala psikosomatik.

Pertanyaan mereka biasanya adalah “Mengapa dokter saya memberikan obat penenang, apakah aman dimakan dan tidak membuat ketergantungan?”, lalu lebih lanjut mereka bertanya kembali“Mengapa dokter tidak menyarankan penggunaan Alprazolam, padahal saya baca kalau obat ini sangat efektif mengatasi kecemasan dan serangan panik?”. Pertanyaan ini kemudian dilanjutkan“Kalau memang dokter tidak menyarankan, mengapa rekan dokter memakai obat golongan ini?

Pada artikel ini saya akan mencoba menjawab beberapa pertanyaan yang seringkali datang kepada saya berkaitan dengan penggunaan obat penenang golongan benzodiazepine terutama yang sangat sering diresepkan seperti jenis Alprazolam (dijual dengan merek Xanax, Alganax, Zypraz, dll).

Jangka Pendek

Pertama kali saya ingin menegaskan kembali bahwa tidak semua obat yang diberikan psikiater adalah obat penenang. Obat penenang sebenarnya hanya merujuk pada obat yang dulu dinamakan Minor Tranquilizer yang biasanya merupakan obat-obat penenang golongan benzodiazepine. Obat ini biasanya dikenal juga dengan sebutan antianxietas/anticemas. Sejak 40 tahun ditemukan, obat ini memang sangat banyak berguna bagi kondisi pasien yang mengalami kecemasan. Efektifitasnya yang baik dan keamanannya yang cukup membuat obat ini sempat menjadi primadona (bahkan sampai saat ini) diresepkan bukan hanya oleh psikiater tetapi juga oleh semua dokter di dunia.

Kerjanya yang spesifik pada sistem GABA, suatu sistem di otak yang bertanggung jawab terhadap kondisi kecemasan memang membuat obat ini sangat efektif untuk mengatasi kecemasan. Sayangnya dosis yang awalnya kecil jika tanpa kontrol ketat dari dokter yang memberi obat ini akan membuat potensi ketergantungan dan toleransi obat tetap ada. Contoh dalam keseharian adalah Alprazolam. Banyak para pasien yang sulit melepaskan diri dari obat ini awalnya memakai obat ini untuk terapi yang disarankan dokter dan dosisnya kecil. Namun karena kurangnya kontrol dan edukasi dokter yang kurang kepada pasien tentang efek obat ini, ada kecenderungan kenaikan dosis dipicu oleh keinginan pasien mendapatkan rasa nyaman yang biasanya mulai menghilang karena efek obat mulai tidak terasa pada dosis kecil (toleransi).

Rawan Ketergantungan

Beberapa tahun belakangan ini banyak penelitian menyebutkan bahwa penggunaan obat golongan ini sudah semakin tidak pada tempatnya dan sering kali disalahgunakan. Bagi negara-negara eropa dan amerika yang kebanyakan orangnya terbiasa meminum alkohol, penggunaan obat golongan benzodiazepine juga menjadi masalah.

Hal ini dikarenakan orang dengan riwayat penggunaan alkohol yang banyak (pecandu alkohol) lebih besar kemungkinannya untuk mengalami ketergantungan dan toleransi (bertambahnya dosis) akibat obat ini. Itulah mengapa hampir di semua buku teks yang membahas tentang obat golongan benzodiazepine, selalu diperingatkan akan bahaya ketergantungan yang besar pada pasien dengan riwayat penggunaan alkohol yang besar. Contoh paling gress adalah kematian Whitney Houston baru-baru ini.

Untuk mencegah hal ini sebenarnya yang disarankan adalah jika memang perlu menggunakan obat penenang maka sebaiknya dipilih obat penenang yang waktu paruhnya relatif panjang atau menengah. Hal ini karena obat penenang dengan masa waktu habis di dalam darah yang panjang lebih kurang menimbulkan efek ketergantungan dan toleransi yang cepat dibandingkan dengan obat yang dengan waktu paruh pendek/singkat. Contohnya Alprazolam lebih mudah membuat toleransi atau ketergantungan daripada Diazepam.

Selanjutnya penggunaan obat ini haruslah dalam pengawasan dokter. Pasien tidak diperkenankan membelinya sendiri apalagi mencoba-coba dosisnya sendiri. Walaupun sudah sejak tahun 2009 penjualan obat golongan benzodiazepine di apotek-apotek diperketat, kenyataannya masih banyak apotek yang masih mau melayani pembelian obat jenis ini tanpa resep.

Pakailah dosis optimal terkecil dan dalam jangka waktu yang singkat. Inilah salah satu cara juga untuk menghindari ketergantungan dan toleransi dalam menggunakan obat penenang. Pasien biasanya akan dipantau dalam mengggunakan obat jenis ini dan saran dokter harus diperhatikan dengan baik. Jika merasa sudah terlalu lama (artinya sudah lebih dari 4 minggu), pasien bisa bertanya kepada dokternya kapan akan segera dilepaskan dari obat ini.

Sebelum mengakhiri artikel ini saya hanya ingin menekankan kembali bahwa menurut pendapat saya pribadi yang diperkuat oleh beberapa tulisan di jurnal ilmiah dan buku teks yang saya baca, penggunaan obat penenang golongan benzodiazepine adalah bersifat sementara dan mempunyai peran sebagai obat simptomatik (mengurangi gejala) pada pasien cemas dan depresi. Pengobatan yang tepat untuk kasus-kasus depresi dan cemas tidak tergantung pada obat jenis ini.

Semoga membantu

Salam Sehat Jiwa

Sumber :
Kompasiana
bahaya, penggunaan, obat, penenang, yang, termasuk, golongan, benzodiazepine, saya, banyak, mendapatkan, pertanyaan, dari, para pengguna, obat ini, yang, kebetulan, adalah, penderita, gangguan, cemas atau, depresi dengan, gejala-gejala, psikosomatik, Pertanyaan, mereka, biasanya, adalah, Mengapa, dokter, saya, memberikan, obat, penenang, apakah, aman dimakan, dan, tidak, membuat, ketergantungan, lalu, lebih, lanjut, mereka, bertanya, kembali, Mengapa, dokter tidak, menyarankan, penggunaan, Alprazolam, padahal, saya baca, kalau obat, ini, sangat, efektif, mengatasi, kecemasan, dan, serangan, panik, Pertanyaan, ini, kemudian, dilanjutkan, Kalau, memang, dokter, tidak, menyarankan, mengapa, rekan, dokter, memakai, obat, golongan, ini, Pada, artikel, ini, saya, akan, mencoba, menjawab, beberapa, pertanyaan, yang, seringkali, datang, kepada, saya, berkaitan, dengan, penggunaan, obat penenang, golongan, benzodiazepine, terutama, yang, sangat, sering, diresepkan, seperti, jenis, Alprazolam, dijual, dengan, merek, Xanax, Alganax, Zypraz,